Pages

19 October 2008

TEORI-TEORI DAN PRINSIP-PRINSIP PENGAJARAN

Oleh: Riwayat Attubani, Amelia Wihardi dan Bustami

A. Pendahuluan

Pengajaran identik dengan pendidikan. Proses pengajaran adalah proses pendidikan. Setiap kegiatan pengajaran adalah untuk mencapai tujuan pendidikan. Pengajaran adalah suatu proses aktivitas mengajar dan belajar, di dalamnya terdapat dua subjek yang saling terlibat, yaitu guru dan peserta didik. Banyak ditemukan tafsiran tentang pengajaran. Pada kenyataannya, pandangan tentang istilah pengajaran terus menerus berkembang dan mengalami kemajuan.

Istilah mengajar dan belajar adalah dua peristiwa yang berbeda, akan tetapi antara keduanya terdapat hubungan yang erat, saling mempengaruhi, dan saling menunjang satu sama lain. Secara sederhana mengajar adalah menyampaikan pengetahuan kepada siswa atau peserta didik di sekolah. Mengajar juga berarti suatu usaha untuk mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa. Pada hakikatnya, kegiatan mengajar adalah suatu kegiatan yang sangat kompleks.

Sementara itu, belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Lebih lanjut dapat dicermati bahwa belajar pada esensinya adalah usaha mengubah diri menjadi lebih baik, melalui proses yang terus menerus. Adanya proses yang panjang dan tertata dengan rapi serta berjenjang akan memungkinkan belajar menjadi lebih baik dan efisien.

Bertolak dari uraian singkat di atas, maka untuk mendapatkan pemahaman yang integral tentang pengajaran, makalah yang sederhana ini akan mencoba menguraikan tentang teori-teori belajar dan prinsip-prinsip yang mendasari pengajaran, dengan harapan dapat menjadi kontribusi bagi para pembaca dalam memahami dua fondasi dasar proses pengajaran tersebut secara komprehensif.

B. Teori-Teori Belajar

Secara eksplisit dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku. Banyak teori belajar menurut literatur psikologi, yang mana teori itu bersumber dari teori atau aliran-aliran psikologi. Tiap teori mempunyai dasar tertentu.[1] Secara garis besar dikenal ada tiga rumpun besar teori belajar menurut pandangan psikologi, yaitu teori disiplin mental, teori behaviorisme, dan teori cognitive gestalt-filed.

1. Teori Disiplin Mental

Sebelum abad ke-20, telah berkembang beberapa teori belajar, salah satunya adalah teori disiplin mental. Teori belajar ini dikembangkan tanpa dilandasi eksperimen, dan ini berarti dasar orientasinya adalah “filosofis atau spekulatif”. Namun teori-teori sebelum abad ke-20, seperti teori dispilin mental ini, sampai sekarang masih ada pengaruhnya, terutama dalam pelaksanaan pengajaran di sekolah-sekolah.

Tokoh teori disiplin mental adalah Plato dan Aristoteles.[2] Teori disiplin mental ini menganggap bahwa dalam belajar, mental siswa harus didisiplinkan atau dilatih.[3] Seperti dalam mengajar siswa “membaca”, guru perlu melatih “otot-otot” mental siswa dengan cara disuruh menyebutkan kata-kata atau huruf dengan suara keras. Kemudian memberikan daftar kata-kata dengan menggunakan kartu-kartu. Bagi siswa yang belum mampu menguasai materi, maka guru harus terus melatih sampai dapat.

Menurut rumpun psikologi teori disiplin mental ini, individu memiliki kekuatan, kemampuan, atau potensi-potensi tertentu, Belajar adalah mengembangkan diri dari kekuatan, kemampuan, dan potensi-potensi individu tersebut.

2. Teori Behaviorisme

Rumpun teori ini disebut behaviorisme karena sangat menekankan perilaku atau tingkah laku yang dapat diamati atau diukur.[4] Teori-teori dalam rumpun ini bersifat molekular, karena memandang kehidupan individu terdiri atas unsur-unsur seperti halnya molekul-molekul. Beberapa ciri dari rumpun teori ini, yaitu:[5]

a. Mengutamakan unsur-unsur atau bagian-bagian kecil

b. Bersifat mekanistis

c. Menekankan peranan lingkungan

d. Mementingkan pembentukan reaksi atau respons

e. Menekankan pentingnya latihan

Ada beberapa teori belajar yang termasuk pada rumpun behaviorisme ini, antara lain:

a. Teori Koneksionisme

Koneksionisme merupakan teori yang paling awal dari rumpun behaviorisme. Teori belajar koneksionisme dikembangkan oleh Edward L. Thorndike (1874-1949), berdasarkan eksperimen yang ia lakukan pada tahun 1890-an. Eksperimen Thorndike ini menggunakan hewan-hewan terutama kucing untuk mengetahui fenomena belajar.[6] Eksperimennya belajar pada binatang yang juga berlaku bagi manusia tersebut, disebut Thorndike dengan “trial and error”.

Menurut teori belajar ini, belajar pada hewan dan pada manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip-prinsip yang sama. Dasar terjadinya belajar adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap pancaindra dengan kecenderungan untuk bertindak atau dikenal dengan hubungan antara Stimulus dan Respons (S-R).[7]

Dengan kata lain, menurut teori ini tingkah laku manusia tidak lain adalah suatu hubungan antara perangsang-jawaban atau stimulus-respons sebanyak-banyaknya. Ikatan-ikatan atau koneksi-koneksi dapat diperkuat atau diperlemah serasi dengan banyaknya penggunaan dan pengaruh-pengaruh dari stimulus-respons tersebut.[8] Dapat dipahami bahwa siapa yang menguasai hubungan stimulus-respons sebanyak-banyaknya dia-lah orang yang pandai atau berhasil dalam belajar. Pembentukan hubungan stimulus-respons dilakukan melalui ulangan-ulangan.

Oleh karena itulah, teori ini juga dinamakan teori Stimulus-Respons. Belajar adalah upaya untuk membentuk hubungan stimulus dan respons sebanyak-banyaknya.

Selanjutnya, dalam teori koneksionisme ini Thorndike mengemukakan hukum-hukum belajar sebagai berikut:

1) Hukum Kesiapan (Law of Readiness)

Dimana hubungan antara stimulus dan respons akan mudah terbentuk manakala ada kesiapan dalam diri individu. Implikasi praktis dari hukum ini adalah, bahwa keberhasilan belajar seseorang sangat tergantung dari ada atau tidak adanya kesiapan.

2) Hukum Latihan (Law of Exercise)

Hukum ini menjelaskan kemungkinan kuat dan lemahnya hubungan stimulus dan respons. Implikasi dari hukum ini adalah makin sering suatu pelajaran diulang, maka akan semakin dikuasainya pelajaran itu.

3) Hukum Akibat (Law of Effect)

Hukum ini menunjuk kepada kuat atau lemahnya hubungan stimulus dan respons tergantung kepada akibat yang ditimbulkannya. Implikasi dari hukum ini adalah apabila mengharapkan agar seseorang dapat mengulangi respons yang sama, maka harus diupayakan agar menyenangkan dirinya, contohnya dengan memberikan hadiah atau pujian. Sebaliknya, apabila yang diharapkan dari seseorang adalah untuk tidak mengulangi respons yang diberikan, maka harus diberi sesuatu yang tidak menyenangkannya, contohnya dengan memberi hukuman.

Disamping hukum-hukum belajar seperti yang telah dikemukakan di atas, konsep penting dari teori belajar koneksionisme Thorndike adalah transfer of training. Konsep ini menjelaskan bahwa apa yang pernah dipelajari oleh anak sekarang harus dapat digunakan untuk hal lain di masa yang akan datang. Dalam konteks pembelajaran, konsep transfer of training merupakan hal yang sangat penting.

b. Teori Pengkondisian (Conditioning)

Teori pengkondisian (conditioning) merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme. Tokoh teori ini adalah Ivan Pavlov (1849-1936). Ia adalah ahli psikologi-refleksologi dari Rusia.[9] Sebagaimana dijelaskan oleh Henry C. Ellis, bahwa dalam prosedur penelitiannya Pavlov menggunakan laboratorium binatang sebagai tempat penelitian.[10] Sama halnya dengan Thorndike, dia juga percaya bahwa belajar pada hewan memiliki prinsip yang sama dengan manusia. Belajar atau pembentukan peri­laku perlu dibantu dengan kondisi tertentu.

Teori ini dilatarbelakangi oleh percobaan Pavlov dengan menggunakan air liur anjing. Dalam per­cobaannya, Pavlov ingin membentuk tingkah laku tertentu pada anjing. Air liur akan keluar apabila anjing melihat atau mencium bau makanan. Dalam percobaannya Pavlov membunyikan bel sebelum memperlihatkan makanan pada anjing. Setelah diulang berkali-kali ternyata air liur tetap keluar bila bel berbunyi meskipun makanannya tidak ada. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku individu dapat dikondisikan.

Dari eksperimen tersebut dapat dipahami bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu harus dilakukan secara berulang­-ulang dengan melakukan pengkondisian tertentu. Pengkondisian itu adalah dengan melakukan semacam pancingan dengan sesuatu yang dapat menumbuhkan tingkah laku itu. Artinya, belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan suatu perilaku atau respons terhadap sesuatu.

c. Teori Penguatan (Reinforcement)

Kalau pada teori pengkondisian (conditioning) yang diberi kondisi adalah perangsangnya (stimulus), maka pada teori penguatan yang dikondisi atau diperkuat adalah responsnya. Seorang anak yang belajar dengan giat dan dia dapat menjawab semua pertanyaan dalam ulangan atau ujian, maka guru memberikan penghargaan pada anak itu dengan nilai yang tinggi, pujian, atau hadiah. Berkat pemberian penghargaan ini, maka anak tersebut akan belajar lebih rajin dan lebih bersemangat lagi. Hadiah itu me-reinforce hubungan antara stimulus dan respons.[11]

d. Teori Operant Conditioning

Psikologi penguatan atau “operant conditioning” merupakan perkembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme dan “conditioning”. Tokoh utamanya adalah Skinner. Skinner adalah seorang pakar teori belajar berdasarkan proses “conditioning” yang pada prinsipnya memperkuat dugaan bahwa timbulnya tingkah laku adalah karena adanya hubungan antara stimulus dengan respons. Menurut Skinner, tingkah laku bukanlah sekedar respons terhadap stimulus, tetapi merupakan suatu tindakan yang disengaja atau operant. Ini dipengaruhi oleh apa yang terjadi sesudahnya.[12]

Skinner mem­bedakan dua macam respons, yakni respondent response (reflexive res­ponse) dan operant response (instrumental respons). Respondent response adalah respons yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang ter­tentu, misalnya perangsang stimulus makanan menimbulkan keluar­nya air liur. Respons ini relatif tetap. Artinya, setiap ada stimulus semacam itu akan muncul respons tertentu. Dengan demikian, pe­rangsang-perangsang yang demikian itu mendahului respons yang ditimbulkannya.

Operant response atau instrumental response adalah respons yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Perangsang yang demikian yang disebut reinforcer, karena perangsang-perangsang tersebut memperkuat respons yang telah dilakukan organisme. Jadi dengan demikian, perangsang tersebut mengikuti dan memperkuat suatu tingkah laku yang telah dilakukan. Misalnya, jika seseorang telah belajar melakukan sesuatu lalu men­dapat hadiah sebagai reinforcer, maka ia akan menjadi lebih giat dalam belajar.

Pada perilaku manusia respondent response bersifat sangat terbatas, oleh karena itu sangat kecil untuk dapat dimodifikasi. Sebaliknya, operant response atau instrumental response sifatnya tidak terbatas, oleh karena itu kemungkinan untuk dapat dimodifikasi sangat besar. Dengan demikian, untuk mengubah tingkah laku, dapat meng­gunakan instrumental response.

Program pembelajaran yang terkenal dari Skinner adalah “programmed instruction” dengan menggunakan media buku. Dalam pengajaran berprogram, bahan ajaran tersusun dalam potongan bahan kecil-kecil, dan disajikan dalam bentuk informasi dan tanya jawab. Suatu respons diperkuat oleh penghargaan berupa nilai yang tinggi dari kemampuannya menyelesaikan soal-soal ujian. Pemberian nilai adalah penerapan teori penguatan yang disebut juga dengan “operant conditioning”.

Secara keseluruhan, dapat dipahami bahwa prinsip-prinsip belajar menurut teori behaviorisme adalah sebagai berikut:

a. Proses belajar dapat terjadi dengan baik apabila siswa ikut terlibat secara aktif di dalamnya

b. Materi pelajaran diberikan dalam bentuk unit-unit kecil dan diatur sedemikian rupa sehingga hanya perlu memberikan suatu respons tertentu saja

c. Tiap-tiap respons perlu diberi umpan balik secara langsung sehingga siswa dapat dengan segera mengetahui apakah respons yang diberikan betul atau tidak

d. Perlu diberikan penguatan setiap kali siswa memberikan respons apakah bersifat positif atau negatif

3. Teori Cognitive Gestalt-Filed

Teori kognitif dikembangkan oleh para ahli psikologi kognitif. Menurut teori ini, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui (knowing) dan bukan respons. Teori belajar Gestalt (Gestalt Theory) ini lahir di Jerman tahun 1912, yang dipelopori dan dikembangkan oleh Max Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving.[13] Dari pengamatannya ia menyesalkan penggunaan metode menghafal di sekolah, dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian dan bukan hafalan akademis.

Ciri-ciri teori ini adalah:[14]

a. Mementingkan apa yang ada dalam diri manusia

b. Mementingkan keseluruhan dari pada bagian-bagian

c. Mementingkan peranan kognitif

d. Mementingkan pembentukan struktur kognitif

e. Mementingkan keseimbangan dalam diri manusia

f. Mengutamakan insight

Lebih lanjut, dapat dipahami bahwa Gestalt dalam bahasa Jerman berarti “whole configuration” atau bentuk yang utuh, pola, kesatuan, dan keseluruhan. Arti Gestalt adalah keseluruhan lebih berarti dari bagian-bagian.[15] Teori ini berpandangan bahwa keseluruhan lebih penting dari bagian-bagian. Sebab keberadaan bagian-bagian itu didahului oleh keseluruhan.[16] Suatu konsep yang penting dalam psikologi Gestalt adalah tentang “insight”, yaitu pengamatan dan pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian dalam suatu situasi permasalahan.

Dalam perspektif psikologi kognitif, belajar pada asasnya adalah peristiwa mental.[17] Rumpun psikologi Gestalt bersifat molar, yaitu menekankan keseluruhan yang terpadu, alam kehidupan manusia dan perilaku manusia selalu merupakan suatu keseluruhan, suatu keterpaduan.[18]

Belajar Gestalt menekankan pemahaman atau “insight” dan pengamatan sebagai suatu alternatif. Sumbangannya ini diikuti oleh tokoh-tokoh lainnya, seperti Wolfgang Kohler (1887-1959) yang meneliti tentang “insight” pada simpanse, yaitu mengenai mentalitas simpanse (ape) di pulau Canary. Dari percobaan tersebut, diketahui tentang hakikat belajar. Belajar terjadi karena kemampu­an menangkap makna dan keterhubungan antara komponen yang ada di lingkungannya. Pandangannya ini bertentangan dengan pandangan Thorndike mengenai belajar, yang menganggap sebagai proses “trial and error”.

Menurut teori Gestalt, belajar adalah proses mengembangkan insight. Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalah­an. Berbeda dengan teori behaviorisme yang menganggap belajar atau tingkah laku itu bersifat mekanistis, sehingga mengabaikan atau mengingkari peranan insight. Teori Gestalt justru menganggap bahwa insight adalah inti dari pembentukan tingkah laku.

Belajar yang terpenting bukan mengulangi hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh insight.[19] Insight yang merupakan inti dari belajar menurut teori Gestalt, memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Kemampuan insight seseorang tergantung kepada kemampuan dasar orang tersebut

b. Insight tergantung dari pengalaman masa lalu yang relevan

c. Insight tergantung kepada pengaturan dan penyediaan ling­kungannya

d. Pengertian merupakan inti dari insight

e. Apabila insight telah diperoleh, maka dapat digunakan untuk menghadapi persoalan dalam situasi lain

Beberapa prinsip penerapan teori belajar ini adalah:

a. Belajar itu berdasarkan keseluruhan

Teori Gestalt menganggap bahwa keseluruhan itu lebih memiliki makna dari bagian-bagian. Bagian-bagian hanya berarti apabila ada dalam keseluruhan. Makna dari prinsip ini adalah bahwa pembelajaran itu bukanlah berangkat dari fakta-fakta, akan tetapi mesti berangkat dari suatu masalah. Melalui masalah itu siswa dapat mempelajari fakta.

b. Anak yang belajar merupakan keseluruhan

Prinsip ini mengandung pengertian bahwa membelajarkan anak itu bukanlah hanya mengembangkan intelektual saja, akan tetapi mengembangkan pribadi anak seutuhnya. Oleh karenanya mengajar itu bukanlah menumpuk memori anak dengan fakta-fakta yang lepas-lepas, tetapi mengembangkan keseluruhan potensi yang ada dalam diri anak.

c. Belajar berkat insight

Telah dijelaskan bahwa insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Dengan demikian, belajar itu akan terjadi manakala dihadapkan kepada suatu persoalan yang harus dipecahkan. Belajar bukanlah menghafal fakta. Melalui persoalan yang dihadapi itu anak akan mendapat insight yang sangat berguna untuk menghadapi setiap masalah.

d. Belajar berdasarkan pengalaman

Pengalaman adalah kejadian yang dapat memberikan arti dan makna kehidupan setiap perilaku individu. Belajar adalah melaku­kan reorganisasi pengalaman-pengalaman masa lalu yang secara terus-menerus disempurnakan. Proses membelajarkan ada­lah proses memberikan pengalaman-pengalaman yang bermakna untuk kehidupan anak.

C. Prinsip-Prinsip Pengajaran

Tugas guru mengelola pengajaran dengan lebih baik, efektif, dinamis, efisien, ditandai dengan keterlibatan peserta didik secara aktif, mengalami, serta memperoleh perubahan diri dalam pengajaran. Yang dimaksud dalam proses pengajaran adalah guru dan peserta didik sama-sama aktif karena keduanya sebagai subjek pengajaran. Dalam proses pengajaran, ada beberapa prinsip pengajaran yang secara relatif berlaku umum, diantaranya adalah:

  1. Prinsip Aktivitas

Pengalaman belajar yang baik hanya bisa didapat bila peserta didik mau mengaktifkan dirinya sendiri dengan bereaksi terhadap lingkungan. Belajar yang berhasil mesti melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun aktivitas psikis. Aktifitas fisik adalah peserta didik giat dan aktif dengan anggota badan. Peserta didik yang memiliki aktivitas psikis (kejiwaan) ialah jika daya jiwanya bekerja sebanyak-banyaknya atau banyak berfungsi dalam rangka pengajaran.

Memberikan kesempatan beraktivitas kepada siswa bukan dalam arti semua kegiatan belajar mengajar diserahkan kepada siswa tetapi prinsip aktivitas maksudnya adalah bahwa guru harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan sesuatu dalam mengembangkan dirinya dan mengekpresikan kemampuannya secara total. Dengan demikian guru hanyalah men-stimulant, sedangkan yang mengolah dan mencerna adalah peserta didik itu sendiri sesuai kemauan, kemampuan, bakat, dan latar belakang masing-masing. Jadi belajar adalah suatu proses dimana peserta didik harus aktif.

Prinsip ini sudah sangat tegas dan jelas dalam al-Qur’an, pedoman hidup seorang muslim, sebagimana firman Allah Swt:

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)

Lebih tegasnya lagi Allah Swt berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka berusaha merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d: 11)

Dalam prinsip ini, maka tugas guru dalam mengajar antara lain:

1. Membangkitkan keaktifan jiwa siswa melalui:

a. Guru banyak mengajukan pertanyaan dan membimbing diskusi

b. Memberikan tugas untuk memecahkan masalah-masalah, menganalisis, mengambil keputusan

c. Membuat berbagai percobaan dengan menyimpulkan, memberi pendapat

2. Membangkitkan keaktifan jasmani siswa, maka guru perlu:

a. Menyelenggarakan berbagai bentuk pekerjaan keterampilan di bengkel, laboraturium

b. Mengadakan pameran, karyawisata

  1. Prinsip Motivasi

Motivasi berasal kata motive–motivation yang berarti dorongan atau keinginan, baik datang dari dalam diri (instrinsik) maupun dorongan dari luar diri seseorang (ekstrinsik). Motif atau biasa juga disebut dorongan atau kebutuhan, merupakan suatu tenaga yang berada pada diri individu atau siswa, yang mendorongnya untuk berbuat dalam mencapai suatu tujuan.[20]

Motivasi terbentuk oleh tenaga-tenaga yang bersumber dari dalam dan dari luar individu.[21] Seorang guru harus berusaha untuk menimbulkan motif-motif pada diri peserta didik yang menunjang kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pengajaran. Bentuk kegiatan guru adalah menciptakan kondisi belajar sedemikian rupa (bermacam-macam motif) sehingga siswa mau melakukan apa yang dapat mereka lakukan (termotivasi untuk belajar).

Beberapa cara untuk menumbuhkankembangkan motivasi pada siswa adalah:

a. Cara mengajar yang variatif

b. Mengadakan pengulangan informasi

c. Memberikan stimulan baru, dengan pertanyaan-pertanyaan

d. Memberikan kesempatan pada siswa untuk menyalurkan keinginan belajar

e. Menggunakan media dan alat peraga atau alat bantu yang menarik perhatian siswa seperti foto, gambar, diagram, mind mapping

  1. Prinsip Individualitas (Perbedaan Individu)

Setiap manusia adalah individu yang mempunyai kepribadian dan kejiwaan yang khas. Secara psikologis, prinsip perbedaan individualitas sangat penting diperhatikan karena:

a. Setiap anak mempunyai sifat, bakat, dan kemampuan yang berbeda

b. Setiap individu berbeda cara belajarnya

c. Setiap individu mempunyai minat khusus yang berbeda

d. Setiap individu mempunyai latar belakang yang berbeda

e. Setiap individu membutuhkan bimbingan khusus dalam menerima pelajaran yang diajarkan guru sesuai dengan perbedaan individual

f. Setiap individu mempunyai irama pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda

Maksud dari irama pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda adalah bahwa siswa belajar dalam kelas dalam usia perkembangan. Masing-masing siswa tidak sama perkembangannya, ada yang cepat ada yang lambat maka guru harus bersabar dalam tugas pelayanan belajar pada anak didiknya.

Maka setiap guru mengajar harus diimplikasikan sebagai berikut:

1. Setiap memberikan tugas kelompok, hendaklah didasarkan pada tingkat kepandaian peserta didik

2. Guru memberikan tugas-tugas unit dengan kemungkinan memilih macam-macam kegiatan dan pengalaman bagi setiap peserta didik

3. Guru memberikan tugas–tugas individual kepada beberapa peserta didik setelah dalam suatu kelompok

4. Guru jangan memberikan tugas-tugas berupa hafalan-hafalan dan fakta-fakta saja, tetapi perlu juga pengajaran dengan ekperimen, demonstrasi, pemecahan soal, dan tugas serta penyelidikan yang mengandung motivasi dan kebangkitan aktivitas peserta didik

  1. Prinsip Lingkungan

Lingkungan adalah sesuatu hal yang berada di luar diri individu. Lingkungan pengajaran adalah segala hal yang mendukung pengajaran itu sendiri yang dapat difungsikan sebagai sumber pengajaran atau sumber belajar. Diantaranya; guru, buku, dan bahan pelajaran yang menjadi sumber belajar.

Anak memiliki berbagai potensi yang tumbuh dan berkembang tergantung pada interaksi siswa dengan lingkungannya. Pembawaan menentukan batas-batas kemungkinan yang dicapai oleh individu, tetapi lingkungan sangat menentukan dalam kenyataan.

Antara lingkungan dan pembawaan saling membutuhkan dan saling melengkapi, sehingga keduanya terdapat jalinan yang erat. Menurut sebagian pakar psikologi, faktor pembawaan lebih menentukan untuk pembentukan intelegensi, fisik, dan reaksi indrawi, sedangkan faktor lingkungan sangat menetukan pembentukan kebiasaan, kepribadian, sikap, nilai, dan sebagainya. Hal ini juga secara tegas telah disampaikan oleh Rasulullah Saw dalam sebuah haditsnya:

”Dari Abi Hurairah berkata, bersabda Rasulullah Saw., setiap anak yang dilahirkan menurut fitrahnya (suci), maka kedua ibu dan bapaknya-lah yang menyebabkan anak itu beragama Yahudi, Nasrani, dan Majusi.”[22] (H.R. Bukhari)

Secara kasat mata dari sabda Rasulullah di atas dapat dipahami bahwa adanya keterkaitan, yakni saling pengaruh dan mempengaruhi antara pembawaan dan lingkungan. Dengan demikian bila seorang guru atau pengajar tidak mengindahkan prinsip lingkungan bisa berakibat peserta didik tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan dimana mereka tinggal (hidup).

  1. Prinsip Konsentrasi

Konsentrasi adalah pemusatan secara penuh terhadap sesuatu yang sedang dikerjakan atau berlangsungnya suatu peristiwa. Konsentrasi sangat penting dalam segala aktivitas, terutama aktivitas belajar mengajar.

Pekerjaaan yang amat berat di dalam kelas bagi seorang guru adalah bagaimana menciptakan suasana kelas (siswa) bisa berkonsentrasi. Guru harus berupaya sekuat tenaga membuat dan mendorong peserta didik berkonsentrasi dan melakukan suatu penyelidikan, serta menemukan sesuatu yang dapat digunkan kelak untuk kehidupannya dalam masyarakat. Maka dalam setiap pengajaran, guru dituntut untuk dapat mengatur atau mengelola pengajaran sebaik dan sebijaksana mungkin.

Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Rasulullah Saw dalam sebuah haditsnya yang berbunyi sebagai berikut:

Seandainya hatinya (jiwanya) telah khusuk (konsentrasi) maka seluruh anggota tubuhnya juga akan ikut khusuk (konsentrasi) pula”. (al-Hadits)

Para ahli kejiwaan menyimpulkan bahwa jika konsentrasi pada sesuatu telah lahir maka tidak ada lagi stimulus lain masuk ke dalam alam sadar seseorang, sehingga pengamatan semakin cermat dan berjalan dengan baik.

  1. Prinsip Kebebasan

Prinsip kebebasan dalam pengajaran yang dimaksud adalah kebebasan yang demokratis, yaitu kebebasan yang diberikan kepada peserta didik dalam aturan dan disiplin tertentu. Dan disiplin merupakan suatu dimensi kebebasan dalam proses penciptaan situasi pengajaran. Seorang guru dituntut berusaha bagaimana menerapkan suatu metode mengajar yang dapat mengembangkan dimensi-dimensi kebebasan self direction, self discipline,dan self control.

Setiap siswa harus dapat mengembangkan dirinya secara bebas. Untuk itu mereka harus dibimbing sedemikian rupa sehingga mereka mampu mandiri. Guru tidak boleh memaksakan kehendak mereka pada peserta didik, sehingga akan berdampak pada peserta didik, yang mengakibatkan mereka tidak mandiri, tergantung pada orang lain, dan tidak punya inisiatif.

  1. Prinsip Peragaan

Alat indera merupakan pintu gerbang pengetahuan. Peragaan adalah menggunakan alat indera untuk mengamati, meneliti, dan memahami sesuatu. Pemahaman yang mendalam akan lahir dari analisa yang komprehensif sehingga menghasilkan gambaran yang lengkap tentang sesuatu.

Agar siswa dapat mengingat, menceritakan, dan melaksanakan suatu pelajaran yang pernah diamati, diterima, atau dialami di kelas, maka perlu didukung dengan peragaan-peragaan (media pengajaran) yang bisa mengkonkritkan yang abstrak.

Bentuk upaya guru untuk merangsang mengkonkritkan yang abstrak dapat dilakukan antara lain:

a. Siswa diberi perbendaharaan tanggapan yang besar, memberikan tanggapan sebanyak-banyaknya dengan menggunakan alat peraga.

b. Guru mengajarkan sesuatu pada siswa dengan mempertautkan tanggapan-tanggapan yang telah ada pada diri siswa.

c. Guru mengajar kata-kata baru dengan menyuruh siswa melihat, mendengar, mengucapkan, dan menuliskannya.

Ada dua macam peragaan dalam dunia pendidikan :

a. Peragaan langsung, yaitu dengan memperlihatkan bendanya sendiri (asli) ke dalam kelas dan mengadakan percobaan-percobaan ke laboratorium, ke pabrik-pabrik, ke kebun binatang, dan sebagainya.

b. Peragaan tidak langsung, yaitu dengan menunjukan benda tiruan, seperti gambar, foto, film, dan sebagainya.

  1. Prinsip Kerjasama Dan Persaingan

Kerjasama dan persaingan adalah dua hal berbeda. Namun dalam dunia pendidikan (prinsip pengajaran) keduanya bisa bernilai positif selama dikelola dengan baik. Persaingan yang dimaksud bukan persaingan untuk saling menjatuhkan dan yang lain direndahkan, tetapi persaingan yang dimaksud adalah persaingan dalam kelompok belajar agar mencapai hasil yang lebih tinggi tanpa menjatuhkan orang atau siswa lain.

Kerja sama kelompok sangat penting bagi peserta didik untuk membangun sikap demokratis, maka guru dituntut melaksanakan prinsip kerjasama atau kerja kelompok. Dalam kerja kelompok terbentuk relasi antar individu secara aktif, namun di dalamnya tidak tertutup kemungkinan terjadi persaingan secara sehat dan baik. Maka sebelum belajar kelompok, guru dituntut memberikan arahan yang baik pula.

  1. Prinsip Apersepsi

Apersepsi berasal dari kata ”Apperception” berarti menyatupadukan dan mengasimilasikan suatu pengamatan dengan pengalaman yang telah dimiliki.[23] Atau kesadaran seseorang untuk berasosiasi dengan kesan-kesan lama yang sudah dimiliki dibarengi dengan pengolahan sehingga menjadi kesan yang luas. Kesan yang lama itu disebut bahan apersepsi.

Apersepsi dalam pengajaran adalah menghubungan pelajaran lama dengan pelajaran baru, sebagai batu loncatan sejauh mana anak didik mengusai pelajaran lama sehingga dengan mudah menyerap pelajaran baru.

  1. Prinsip Korelasi

Korelasi yaitu menghubungkan pelajaran dengan kehidupan anak atau dengan pelajaran lain sehingga pelajaran itu bermakna baginya. Korelasi akan melahirkan asosiasi dan apersepsi sehingga dapat membangkitkan minat siswa pada pelajaran yang disampaikan.

  1. Prinsip Efisiensi dan Efektifitas

Prinsip efisiensi dan efektifitas maksudnya adalah bagaimana guru menyajikan pelajaran tepat waktu, cermat, dan optimal. Alokasi waktu yang telah dirancang tidak sia-sia begitu saja, seperti terlalu banyak bergurau, memberi nasehat, dan sebagainya. Jadi semua aspek pengajaran (guru dan peserta didik) menyadari bahwa pengajaran yang ada dalam kurikulum mempunyai manfaat bagi siswa pada masa mendatang.

  1. Prinsip Globalitas

Prinsip global atau integritas adalah keseluruhan yang menjadi titik awal pengajaran. Memulai materi pelajaran dari umum ke yang khusus. Dari pengenalan sistem kepada elemen-elemen sistem. Pendapat ini terkenal dengan Psikologi Gestalt bahwa totalitas lebih memberikan sumbangan berharga dalam pengajaran.

  1. Prinsip Permainan dan Hiburan

Setiap individu atau peserta didik sangat membutuhkan permainan dan hiburan apalagi setelah terjadi proses belajar mengajar. Bila selama dalam kelas siswa diliputi suasana hening, sepi, dan serius, akan membuat peserta didik cepat lelah, bosan, butuh istirahat, rekreasi, dan semacamnya. Maka guru disarankan agar memberikan kesempatan kepada anak didik bermain, menghibur diri, bergerak, berlari-lari, dan sejenisnya untuk mengendorkan otaknya.

D. Penutup

Pengajaran adalah sesuatu yang kompleks yang melibatkan interaksi antara pendidik dengan peserta didik, bahkan dengan lingkungan maupun sumber belajar lainnya. Mengajar dan belajar adalah dua bentuk aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dalam suatu proses pengajaran. Mengajar dan belajar adalah dua komponen fundamental yang ditemui dalam suatu proses pengajaran. Pemahaman yang benar mengenai pengajaran, terutama menyangkut teori-teori dan prinsip-prinsip yang mendasari pengajaran dari segala aspek, bentuk, dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik.

Untuk menjelaskan bagaimana proses belajar itu berlangsung, timbul berbagai teori. Tiap teori mempunyai dasar tertentu. Tapi dapat dipahami bahwa ada tiga rumpun besar teori belajar secara global, yaitu teori disiplin mental, teori behaviorisme, dan teori cognitive gestalt-filed. Dalam hal ini, pengetahuan tentang teori-teori belajar dapat membantu kesuksesan guru mengajar. Demikian juga terdapat beberapa prinsip mengajar yang diharapkan dapat meningkatkan pemahaman guru dalam membantu mencapai hasil belajar yang optimal.


[1] S. Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, Cet. ke-8, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003),

[2] Nursyamsi, Psikologi Pendidikan, Cet. ke-1, (Padang: Baitul Hikmah Press, 2003),

[3] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2003),

[4] Ibid.,

[5] Ibid.

[6] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, Cet. ke-3, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004),

[7] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Cet. ke-4, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008),

[8] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, Cet. ke-2, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003),

[9] Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi “Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam”, Cet. ke-2, (Jakarta: Kencana, 2005),

[10] Henry C. Ellis, Fundamentals of Human Learning, Memory, and Cognition, Second Edition, (USA: Brown Company Publishers, 1978),

[11] S. Nasution, op. cit.,

[12] Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, op. cit., h. 220

[13] Syaiful Sagala, op. cit.,

[14] Nursyamsi, op. cit.,

[15] Syaiful Sagala, op. cit.

[16] Syaiful Bahri Djamarah, Cet. ke-1, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002),

[17] Muhibbin Syah, op. cit.,

[18] Syaiful Sagala, op. cit.,

[19] Syaiful Bahri Djamarah, loc. cit.

[20] Syaiful Sagala, op. cit.

[21] Abdul Madjid, Perencanaan Pembelajaran, “Mengembangkan Standar Kompetensi Guru”, Cet. ke-1, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2005),

[22] Zainuddin Hamidi, Terjemahan Hadits Shaheh Bukhari, Cet. Ke-1, Jilid ke-4, (Jakarta:Wijaya, t.th.),

[23] Ahmad Rohani

No comments:

Popular Posts